Itulah judul yang terlihat mencolok ketika pertama kali membuka website detiksport.com. Ya, Sang juara Coppa Indonesia dua kali berturut-turut, Arema Malang, tumbang di babak 32 besar oleh tim Jawa Timur lainnya, Persekabpas Pasuruan. Memang, menang kalah dalam sepak bola adalah hal yang biasa, namun sebagai salah satu dari sekian banyak Aremania pasti banyak bertanya mengapa Arema bisa tumbang pada babak awal oleh tim yang notabene kualitas pemainnya masih sedikit di bawahnya. Bahkan, di Liga Indonesia,posisi Arema juga tidak terlalu menggembirakan (hanya berada di papan tengah) dan terancam tidak bisa mengikuti Super Liga tahun depan (Super Liga hanya diikuti 10 tim terbaik masing-masing dari wilayah Timur dan Wilayah Barat).
Banyak perubahan yang dialami Arema menyongsong kompetisi tahun ini. Tidak adanya tokoh kharismatik (alm) Gandhi Yogatama, hengkangnya pelatih berkarakter Benny Dolo, dan pindahnya beberapa pemain penting ke klub lain seperti Firman Utina (ke Persita), Franco Hitta (ke Persema), Aris Budi Prasetyo dan Erol F.X. Iba (ke Persik) membuat Arema harus membangun tim lagi dari awal. Manajemen memang sudah berusaha menggaet pemain-pemain baru berkelas seperti Ponaryo Astaman (yang konon nilai kontraknya paling tinggi di antara pemain lokal Ligina), Ortizan Salossa, Suroso, Elie Iboy, dan beberapa pemain asing seperti Bruno Cashmir, Patricio Morales, Basile Essa Mvondo, dll. Namun, rupanya membentuk tim yang berkarakter itu tidak mudah. Dalam perjalanannya sampai saat ini, prestasi Arema tak kunjung membaik, bahkan di pertengahan kompetisi beberapa pemain terpaksa dicoret karena tidak bisa menunjukkan performa terbaiknya.
Ya,Arema memang butuh pemain yang berkarakter. Gaya keras khas Malang-an yang menjadi kebanggaan arek-arek Malang terasa hilang. Pelatih Miroslav Janu memang sudah melakukan langkah yang tepat dengan memberi kesempatan kepada pemain-pemain muda asli Malang, seperti Arif Suyono, Prastowo, dan Richi Pravita. Tetapi, mereka bukanlah key player yang selalu dipasang pada tiap pertandingan. Intinya, Arema sekarang butuh pemain dan pelatih yang tahu karakter Malang (ini menurut saya).
Arema lebih beruntung dibandingkan saudara tuanya Persema Malang (dari segi biaya dan pendukung fanatik), namun Persema melakukan langkah yang lebih tepat dalam pembinaan pemain usia muda dan memberi kesempatan kepada pemain binaannya untuk mendapatkan jam terbang yang tinggi. Buktinya posisi Persema di Ligina lebih baik daripada Arema, beberapa pemain mudanya juga menjadi langganan timnas U-23 (Ahmad Bustomi dan Pitono). Padahal kualitas pemainnya secara keseluruhan masih di bawah pemain-pemain Arema. Semoga manajemen Arema mampu melakukan yang terbaik untuk tim kebanggaan arek-arek Malang ini.
Tulisan ini hanyalah sebuah pendapat dari seorang Aremania yang kecewa dengan prestasi Arema sejauh ini (CMIAW). Tetapi, dimanapun berada kami selalu ada karena kami Aremania.
Salam satu jiwa Arema ……………….
yo… ayo…
ayo arema…
emang ga bs membangun tim sepakbola secara instan. beli sana beli sini. lebih baik bina pemain lokal. kaya m ridwan tuh dari PSIS. keren bo… masuk timnas kan. dia tuh aseli terbikin daripada sekolah sepakbola di semarang.
menurutku satu lg yg mesti dipikirin sama insan sepakbola indonesia… bubarkan PSSI dan liga2nya. coz ngabisin duit aja… bikin kompetisi ga mutu. pemain impor kualitasnya setengah-setengah. stadion gronjal-gronjal, klo diperbaiki ngabisin duit. isine tawuran thok… begitu masuk kompetisi antarnegara jadi pupuk bawang… wis bubar ae. masih banyak bidang lain yg butuh perhatian, khususnya pendidikan…
bravo pendidikan indonesia
kalo dibubarin kasian ntar pemain-pemain bola profesionalnya. Pemain yang sudah tua butuh duit untuk menghidupi keluarganya. Pemain yang masih muda juga nantinya frustasi karena sudah berlatih keras sejak dini. Belum lagi para supporter fanatik sepak bola yg haus hiburan. Liga Indonesia tidak boleh dibubarkan karena Liga ini mempunyai ciri khas yang jarang dipunyai liga-liga lainnya (menggabungkan beberapa olahraga / keahlian : sepak bola, tinju, taekwondo, lempar cakram). Kalo PSSI, sok aja dibubarkan.
Peace !!!
fanatisme supporter, ambisi pemain2 muda, itu semua terjadi karena propaganda industri sepakbola luar negeri yg udah maju. pekerjaan sebagai pemain bola bukan pekerjaan yg berguna banyak utk negara… argetina yg pemainnya ngetop di mana2, negaranya miskin. amrik yg timnasnya medioker,bisa menghegemoni (walaupun gwa ga simpati).daripada capek2 mikirin sepakbola indonesia yg banyak masalah,mending abaikan aja dia. pikirkan pendidikan Indonesia.
Saya hargai Mas legowo_adhi punya visi kebangsaan yang bagus. Memang olahraga bukan hal yang strategis dalam suatu negara, termasuk sepak bola, ya meskipun ada segelintir negara di benua Eropa yang sepak bola nya hampir sama pentingnya dengan industri yang lain; tetapi kita juga tidak boleh menutupi kenyataan bahwa ada orang-orang tertentu yang memang sudah dilahirkan dengan bakat olahraga, dan mereka layak untuk difasilitasi serta dihargai. So, reward terhadap para atlet dan perhatian pemerintah terhadap olahraga menurut saya cukup penting untuk mengakomodasi rakyatnya yang memang intereset pada bidang tersebut.
Finally, saya setuju bahwa pendidikan adalah nomor satu, tetapi olahraga juga harus di-manage dengan baik. Ya, tentunya untuk bangsa kita yang lebih maju.
Peace out