Seperti tahun-tahun sebelumnya, waktu liburan semester genap yang memang cukup lama, saya manfaatkan untuk pulang kampung ke Kota Malang.
Namun,kali ini waktu liburan terkikis oleh kewajiban Kerja Praktek, sehingga saya baru bisa pulang kampung pada pertengahan bulan Juli.
Sebenarnya bukan hal ini yang akan saya ceritakan lebih jauh di sini tetapi tentang perjalanannya yang cukup melelahkan (namun bagaimanapun saya mencoba menikmatinya).
Perjalanan pulang dari Bandung ke Malang saya awali dengan menaiki KA “express” (sepertinya kata di dalam tanda petik ini perlu ditinjau ulang) Turangga.
Menurut jadwal yang dikeluarkan PT KAI, KA Turangga berangkat dari Stasiun Kota Bandung pada pukul 18.30 dan tiba di Stasiun Gubeng Surabaya pada pukul 7.30.
Tetapi ketika waktu keberangkatan KA telah tiba, lagi-lagi kebiasaan khas buruk bangsa Indonesia (apalagi kalau bukan jam karet) terlihat.
KA ini baru cabut dari Stasiun Kota Bandung pada pukul 19.00 (saya kira 30 menit bukan waktu yang sedikit), padahal pada pukul 18.30 semua kursi di gerbong saya sudah terisi penuh oleh penumpang.
Entah apa yang menyebabkan KA ini terlambat berangkat dalam waktu yang cukup lama, biasanya ketika naik KA ini “elastisitas” jam karetnya tidak begitu parah, hanya terlambat 5 – 10 menit.
Saya juga tidak mau ambil pusing dengan kejadian ini dengan menanyakan alasan keterlambatan keberangkatan kepada “petugas KA” (saya tidak begitu mengerti istilah yang tepat untuk menyebut orang-orang yang lalu-lalang menawarkan makanan/minuman/selimut dalam KA), karena hanya menambah beban pikiran saja.
Lebih baik saya menghabiskan waktu untuk ngobrol dengan penumpang yang duduk di sebelah kursi saya (beruntung yang duduk di samping saya cewek yang juga anak kuliahan
sehingga saya merasa sedikit betah duduk di KA).
Selanjutnya dapat ditebak, karena berangkatnya terlambat, tiba di tempat tujuannya pun terlambat. Saya baru tiba di Stasiun Gubeng pada pukul 9.00 (terlambat 90 menit dari jadwal tiba seharusnya).
Sebenarnya, saya tidak terlalu mempermasalahkan hal ini, tetapi kasihan tante saya yang sudah menunggu di Stasiun Gubeng sejak pukul 7.00 (Ini semua memang salah PT KAI).
Perjalanan selanjutnya ini yang lebih melelahkan daripada duduk di dalam KA. Karena jalan tol Gempol-Porong sudah tidak dapat dipergunakan lagi, terpaksa kami harus melewati jalan raya Porong yang super padat.
Biasanya perjalanan Surabaya – Malang via tol Gempol-Porong cukup ditempuh dalam 2 jam, tetapi via jalan raya Porong ini butuh waktu hingga 4,5 jam.
Perjalanan terasa cukup mengesalkan ketika mobil harus berjalan merayap di jalan raya Porong dengan terik matahari, bau asap truk dan lumpur Lapindo, serta debu dari tanah-tanah yang dibuat untuk tanggul lumpur.
————————————————————————————
Karena kondisi jalan Malang – Surabaya yang telah saya ceritakan di atas, saya jadi merasa kasihan kepada orang tua jika harus mengantar saya ke Surabaya seperti biasanya ketika balik ke Bandung (KA Malang-Bandung tidak ada, KA Malang-Surabaya pun harus “berputar” dulu sehingga butuh waktu 5 jam, naik bus pun saya jadi pikir-pikir melihat pengalaman saya melewati jalan raya Porong).
Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menaiki KA “express” Gajayana, mampir dulu di Jakarta, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandung.
Saya salut dengan KA Gajayana yang berangkat relatif tepat waktu (hanya terlambat 7 menit). Di KA ini, saya duduk bersebelahan dengan seorang laki-laki yang usianya setara dengan ayah saya.
Setelah ngobrol, ternyata bapak itu adalah seorang dosen filsafat yang mengajar di UI (Beliau datang ke Malang dalam rangka mengisi suatu acara).
Selama perjalanan, bapak yang saya lupa namanya ini(dasar pelupa) “memaksa” saya melakukan diskusi tentang kondisi bangsa Indonesia.
Sebenarnya saya tidak terlalu antusias dengan topik diskusi ini (karena saya tahu bahwa masalah bangsa ini sangat kompleks), tetapi karena saya “keceplosan ngomong” kalau sedang menimba ilmu di kampus yang dinamakan UNB dalam film Jomblo, beliau malah “menantang saya untuk menganalisis masalah bangsa Indonesia.
Akhirnya, dengan “terpaksa” saya mengeluarkan “ilmu-ilmu nggacor” hasil dari usaha saya belajar Pancasila dan Ilmu-ilmu sosial selama ini.
Saya sedikit lega, beliau cukup “senang” dengan apa yang saya utarakan (setidaknya saya bisa menjaga gengsi “Gajah”).
Yang saya tangkap, bapak ini selalu memandang masalah dengan filsafat, dan menurutnya masalah utama bangsa ini adalah ketidakkonsistenan cara pandang serta cara pikir pemerintah dan rakyatnya.
Beliau mencontohkan, kenapa Dr.Azahari yang warga Malaysia itu dengan bebas bisa mempengaruhi orang-orang Indonesia untuk melakukan bom “jihad” bunuh diri, kenapa bukan orang Malaysia saja yang dipengaruhi.
Menurut beliau (berdasarkan penelitiannya di Malaysia, katanya), orang Malaysia meskipun kehidupan Islaminya lebih kental daripada Indonesia tetapi memiliki cara pandang/pikir yang konsisten. Mereka tahu bahwa kejayaan Islam tidak akan didapat dengan cara bom bunuh diri. Oleh karena itu, Dr.Azahari seakan-akan merasa terkucilkan di Malaysia dan lebih nyaman berkeliaran di Indonesia.
Bangsa Indonesia yang seharusnya cara pandang/pikirnya sudah berada dalam “framework” Pancasila malah memilih cara pandang/pikir yang “aneh-aneh” yang mengakibatkan bangsa ini seperti kehilangan arah dalam berjalan.
Ya, kata-kata itulah yang saya ingat ketika dosen filsafat itu menjelaskan kepada saya. Saya tidak mau mengomentari lebih jauh masalah ini karena saya merasa bukan ahlinya.
Tetapi,secara pribadi saya juga cenderung setuju dengan pertimbangan logika.
Karena diskusi ini, perjalanan Malang-Jakarta terasa lebih cepat (karena setelah diskusi selesai saya langsung tidur pulas sampai pagi) dan pada pukul 10.00 (terlambat 90 menit dari jadwal seharusnya) KA mulai tiba di Gambir.
Rencananya saya langsung oper ke Bandung dengan KA Parahyangan, tetapi karena keterlambatan kedatangan KA Gajayana (lagi-lagi PT KAI pantas disalahkan), saya yang seharusnya bisa langsung menaiki KA Parahyangan pada pukul 09.15 akhirnya harus menunggu sampai pukul 12.20 untuk shift berikutnya.
Waktu luang ini saya manfaatkan untuk jalan-jalan di sekitar Gambir dan makan siang. Pada pukul 12.35 KA Parahyangan yang saya tumpangi berangkat dari Gambir (lumayanlah, cuma ngaret 15 menit).
Baru kali ini saya menaiki KA Parahyangan, ternyata jalur yang dilewati KA ini cukup menawarkan pemandangan yang indah. Tetapi ngeri juga ketika KA ini melewati jembatan tanpa pagar pembatas dimana di bawahnya adalah jurang dengan kedalaman yang cukup curam.
Pernah saya mendengar berita di TV, KA Parahyangan anjlok di tengah-tengah jembatan tanpa pagar pembatas itu. Makanya, ketika melewati jembatan-jembatan itu, KA ini berjalan sangat perlahan.
Finally, saya tiba di Stasiun KOta Bandung pada pukul 16.30 (kali ini terlambat 60 menit dari jadwal seharusnya, saya rasa PT KAI harus lebih jujur mencantumkan jadwal
berangkat dan tiba pada tiket) dan melanjutkan perjalanan ke kos dengan mikrolet Cisitu – Tegallega.
Betul-betul perjalanan yang melelahkan, tetapi saya tetap menikmatinya.
pertamax…
kenalan dulu
harga tiket gajayana skrg brp ?
siapa tau kalo ada waktu sy maen ke tempat sodara di malang
waktu gw naik Gajayana trakhir hargany Rp 220.000,00
Udah pernah naik kahuripan blom mas ???
asik lho …
saya aja naik itu terus (padahal gk punya duit buat naik turangga hehehehhe …)
Blom pernah dan tidak ada minat