Setiap warga negara seharusnya mempunyai hak dan kewajiban yang jelas yang harus dipatuhi. Setiap warga negara mempunyai hak untuk diperlakukan secara adil di bidang apapun. Jika haknya tidak diberikan warga negara bisa menuntut negara dengan jalur yang benar. Setiap warga negara berkewajiban untuk berlakuĀ sesuai dengan apa yang telah disepakati bersama. Jika kewajiban tidak dilakukan, warga negara yang bersangkutan akan dikenai sanksi yang sesuai yang telah disepakati.
Masalah kemudian timbul ketika warga negara yang merasa haknya tidak terpenuhi tidak dapat menuntut negara dengan jalur yang benar. Masalah juga timbul ketika warga negara yang tidak melakukan kewajibannya tidak mendapatkan sanksi yang sesuai.
Karakteristik dunia adalah tidak ada yang sempurna. Dengan demikian, masalah-masalah tersebut pasti dan selalu terjadi. Engineer selalu memodelkan masalah-masalah (kebanyakan masalah teknis) ke dalam bentuk tertentu yang kemudian dapat dicari solusinya berdasarkan teori dan algoritma yang sudah ada. Meskipun masalah negara merupakan masalah kompleks yang bukan hanya mencakup hal-hal teknis, namun cara berpikir engineering untuk mencari solusi mungkin dapat diterapkan dalam menghadapi permasalahan bangsa.
Hal pertama yang harus dilakukan adalah memodelkan masalah dengan tepat. Dalam konteks negara, memodelkan dapat diartikan dengan mendesain suatu sistem pemerintahan yang sesuai dengan masalah dan kondisi rakyatnya. Desain suatu sistem harus jelas, detail, dan tidak ada ambiguitas si dalamnya. Setelah sistem didefinisikan, berikutnya adalah membuat protokol yang mampu menjadi sarana komunikasi antara elemen-elemen di dalam sistem tersebut. Protokol didesain sesuai dengan kebutuhan elemen-elemen di
dalam sistem tersebut. Protokol juga didesain untuk dapat mengatasi berbagai kemungkinan yang mungkin timbul di luar kondisi normal. Dalam kaitannya dengan negara, protokol dapat disamakan dengan Undang-Undang dan berbagai macam keputusan / peraturan pemerintah. Suatu sistem layak digunakan jika sudah stabil. Oleh karena itu, sebelum digunakan, sistem harus diuji terlebih dahulu dengan sampel yang cukup untuk mewakili semua kondisi. Hal-hal yang perlu diperhatikan setelah pengujian adalah sampai sejauh mana respon sistem bergeser sesuai dengan respon semula yang diharapkan. Jika masih terlalu jauh, maka desain sistem perlu diperbaiki. Jika respon sistem sudah mendekati harapan, maka sistem ini sudah layak untuk digunakan, dan informasi pergeseran respon harus dinyatakan secara transparan.
Layaknya dunia, manusia pun tidak ada yang sempurna. Bahkan perilaku manusia pada dasarnya tidak stabil
dan akan menimbulkan gangguan pada sistem stabil yang sudah ada. Tetapi, selain ketidaksempurnaannya ternyata manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki potensi besar. Seorang manusia (dengan ijin Tuhan) bahkan mampu merubah suatu sistem dengan cepat. Jika sistem yang ada sudah terlalu rumit untuk diperbaiki, cara lain yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan potensi yang ada pada diri manusia. Dalam konteks negara, hal ini bisa diibaratkan seorang pemimpin yang mampu melakukan manuver untuk mengatasi masalah yang ada tanpa menunggu sistem yang tampaknya bakal sangat lama untuk diperbaiki.
Jika pemimpin ini tidak muncul juga,… only God knows what’s happened next…
Pendekatan yang sangat baik, betul2 menunjukkan pendekatan secara sistematis.
Hehe, jadi ngeliat sarjana teknik sesungguhnya: mampu menggunakan ilmu dan sumber daya untuk memecahkan masalah. Tahu metode dan langkah2 utk pemecahan masalah: modelling, desain sistem, dll.
Salut Dod (S.T.), sy belajar banyak dari kmu
Terima kasih, Ran.. tapi kaya’nya sy yg harus belajar banyak dari kamu, secara situ sudah makan asam garam lintas negara
oke mas Dodik IR, ST, ditunggu kontribusinya untuk bangsa Indonesia.
Tapi sebelumnya, terlebih dahulu kontribusi makan-makan kelulusannya diimplementasikan
Saya rasa tubuh Mas Arif sudah cukup banyak gizi.. Alangkah lebih baiknya apabila jatah makan-makan tsb dialokasikan kepada tubuh-tubuh lain (seperti sang penulis) yang masih di bawah normal ..:D